Entah harus aku mulai dari mana ceritaku ini. Kedekatan kami sebagai teman sepertinya berjalan begitu saja. Sama seperti hubungan pertemanan pada umumnya. Dulu awal kali pertama bertemu adalah waktu acara kampus. Bukan acara resmi, hanya acara sederhana yang diadakan oleh anak-anak himpunan mahasiswa program studi kami. Acaranya pun tertutup, khusus hanya mahasiswa dari program studi kami saja yang boleh hadir. Tak ada seorang dosen pun yang turut dalam acara tersebut. Semuanya mahasiswa. Senior, senior dan kami junior. Semua membaur jadi satu di lapangan volly dengan alas seadanya. Boleh pakai kertas, sepatu atau bahkan alas batu bata sekalipun, yang penting tidak mengotori dan meninggalkan sampah berserakan di lapangan. Tapi kalau beruntung bisa duduk tepat di atas rerumputan, lebih nyaman. Semua peserta dalam acara akan duduk melingkar secukupnya. Bisa dua baris atau juga tiga baris tergantung keadaan. Tak lupa juga menyisakan sedikit ruang...
Zaki, siapa sangka jika pria kelahiran kediri ini ternyata telah lama memendam rasa pada seorang wanita berdarah magetan yang tidak lain adalah Ricita. Berbagai cara telah diusahakannya untuk menarik perhatian Ricita, mulai dari mengajaknya makan bareng hingga mengupil di depan Ricita mengajaknya jalan-jalan, tapi dia tak bergeming sedikitpun. Ricita malah memilih pria lain untuk di jadikannya pacar. Tentu saja hal ini membuat hatinya hancur berserakan seperti upil di bawah meja, tak terhitung jumlahnya kawan. Seorang wanita yang dicintainya telah berpaling mencintai orang lain, wanita yang selalu dibawanya ke dalam mimpi kini hilang dari harapannya. Setiap kali Virgo, aku dan Zaki tidur di kos Virgo dimana pasti akulah orang yang terlambat untuk tidur, biasanya kudengar Zaki mengigaukan nama Ricita. Pertama kudengar suara-suara tak jelas yang ternyata berasal dari Zaki. “zak, kamu kenapa?” tanyaku :”eeeemmm, Riciita” erang nya seperti pasien sekarat “Zaki?” kataku sekali ...