
Entah harus aku mulai dari mana
ceritaku ini. Kedekatan kami sebagai teman sepertinya berjalan begitu saja.
Sama seperti hubungan pertemanan pada umumnya. Dulu awal kali pertama bertemu adalah
waktu acara kampus. Bukan acara resmi, hanya acara sederhana yang diadakan oleh
anak-anak himpunan mahasiswa program studi kami. Acaranya pun tertutup, khusus
hanya mahasiswa dari program studi kami saja yang boleh hadir. Tak ada seorang
dosen pun yang turut dalam acara tersebut. Semuanya mahasiswa. Senior, senior
dan kami junior. Semua membaur jadi satu di lapangan volly dengan alas
seadanya. Boleh pakai kertas, sepatu atau bahkan alas batu bata sekalipun, yang
penting tidak mengotori dan meninggalkan sampah berserakan di lapangan. Tapi kalau
beruntung bisa duduk tepat di atas rerumputan, lebih nyaman. Semua peserta
dalam acara akan duduk melingkar secukupnya. Bisa dua baris atau juga tiga
baris tergantung keadaan. Tak lupa juga menyisakan sedikit ruang kosong di
tengahnya.
Acara tersebut dari tahun ke
tahun tak pernah berubah. Format dan alurnya sudah diatur seperti itu adanya.
Nama acaranya pun juga tak pernah berganti, selalu "The Rujak Party."
Entah emang sebuah kewajiban turun temurun dari angkatan sebelumnya atau karena
belum ada yang bisa menemukan nama yang pantas sebagai gantinya. Tapi yang
jelas nama itu akan tetap digunakan untuk menyambut mahasiswa yang baru datang
di kampus atau biasa kita sebut dengan maba.
Menurut filosofinya makanan rujak
itu terdiri dari beberapa bahan. Misalnya cabe rawit, gula merah, garam, asem,
ketimun, tahu, mangga muda dan bahan-bahan lainnya. Semuanya dicampur dan
dijadikan satu dalam wadah. Sama seperti kita yang masih maba ini. Berasal dari
tempat yang berbeda-beda. Memiliki kultur adat dan budaya yang bermacam-macam.
Lalu dipertemukan dalam satu wadah yaitu himpunan mahasiswa budidaya perairan.
Seperti acara-acara pertemuan
pada umumnya. Acara akan di awali dengan pembukaan dari salah seorang senior.
Ia akan membuka acara dengan salam dan sharing cerita kehidupan kampus. Tak
lupa tentunya menjelaskan tujuan dari acara tersebut. Sepertike banyakan sebuah
acara perkumpulan. Motto kebersaan selalu jadi yang terdepan untuk disampaikan.
"Kebersamaan menjadi dasar langgengnya sebuah hubungan keakraban",
begitulah kata salah seorang senior yang sempat aku dengar. Mereka ingin agar
sebagai sesama anak prodi budidaya perairan tidak ada sekat. Senior dan junior
membaur, sehingga komunikasi keakraban bisa selalu terjalin. Ya kurang lebih seperti
itulah filosofinya. Tapi tak penting juga kita bahas maknanya apa. Karena
terkadang makna hanyalah sebatas makna. Sekumpulan kata yang ditulis dalam
secarik atau berlembar-lembar kertas. Atau mungkin hanya sebagai ucapan
semata. Disampaikan namun tak berarti apa-apa. Tak sama dengan prakteknya. Tak
sama dengan kenyataannya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan
perkenalan diri. Satu persatu yang hadir, baik senior maupun junior semua wajib
melakukannya. Berdiri bergantian lalu memperkenalkan nama dan asal domisili
masing-masing. Jikaberkenan, boleh juga ditambah dengan informasilainnya. Akun
Facebook, status pasangan atau bahkan pin BBM. Sebenarnya perkenalan seperti
itu tak begitu penting untuk dilakukan. Banyaknya peserta yang hadir tentu akan
susah untukdihafal dalam waktu yang singkat. Mungkin hanya beberapa nama saja
yang akan masuk di kepala. Dhani, Putri, Joko, Arif, Galih, Bagus, Guntur,
Abdi, Ali, Dhini, Elok dan Danang. Nama-nama yang umum yang sering kita dengar.
Entah dari sinetron yang sering ditonton atau mungkin nama tetangga di kampung
halaman. Bisa juga nama tetangga kos yang sedang tempati. Namun ada
pengecualian pada beberapa nama. Meski sulit pelafalannya dan terdengar tak
umum sekalipun, kita mampu untuk mengingatnya. Biasanya karena si empunya nama
adalah orang yang secara umum dianggap cakep parasnya. Dianggap lebih bersinar
dibanding yang lainnya.
Perkenalan seperti itu sepertinya
tak begitu penting untuk dilakukan. Karena setelah acara ini berakhir dan
ketemu di jalan, besar kemungkinan kita sudah lupa dengan namanya. Alhasil kita
akan kembali lagi menanyakan ulang namanya dan kenalan lagi. Kegiatan yang tak
begitu penting, namun tetap dan harus dilakukan. Seperti rukun kerapian dalam
sebuah syarat ritual yang hukumnya wajib. Tak sah ritualnya jika tidak
melakukannya.
Saat itu yang aku ingat ada satu
orang yang tampak beda dengan kita semua. Dia terlihat sangat kuper sekali.
Acara sudah lewat setengah jam lebih dan dia baru datang; terlambat. Lalu
mengambil posisi tidak berkumpul bersama kami yang maba-mabaini. Ia memilih
untuk menyendiri di sudut sepi.
"Eh, siapaitu? Senior
apakawan?" Celetuk salah seorang maba.
"Kurang paham, harusnya kalo
maba dia akan berkumpul dekat kita disini." Sahut seorang lainnya.
Aku tak tahu apa yang ada dipikirannya
pada saat itu. Saat dimana semua mata tertuju padanya. Sedangkan dia hanya
diam, duduk tertunduk dengan beralaskan tanah. Seperti tak peduli dengan tanah
yang mengotori celana jeans birunya. Bahkan sepertinya ia juga tak mendengarkan
apa yang sedang dibicarakan oleh senior di depan sana. Tak ada satupun dari
kami yang tahu siapa nama anak tersebut. Sampai pada saat gilirannya, barulah
kami semua tahu siapa si anak terlambat itu. Sembari memasukkan kedua tangannya
ke dalam saku jaket, ia berdiri dan memperkenalkan diri.
"Selamat sore teman-teman.
Perkenalkan nama sayaWahyuUtomo dari PrabuMulih, Palembang."
"Untuk keakraban kalian
boleh memanggilku dengan sebutan Wahyu saja."
Sudah begitu saja. Ia kembali
diam, duduk tertunduk dengan beralaskan tanah di posisinya semula. Masih tetap
tak peduli dengan tanah yang mengotori celana jeans birunya.
Seperti nama acaranya, hidangan
utamanya tentu saja adalah rujak. Kali ini kita sebagaima badi perlakukan
layaknya seorang tamu. Sedangkan senior adalah sang tuan rumah. Merekalah yang
selanjutnya menghidangkan rujak dan minuman itu kepada kita. Sedangkan tamu tak
berkewajiban apa-apa kecuali hanya dudukdengan tenang dan menikmati hidangan
yang ada. Namun sepertinya semenjak rujak itu dihidangkan, acara kebersamaan nampaknya
berubah menjadi ajang balas dendam. Dari senior untuk junior. Dari yang lama
untuk yang baru datang. Hidangan yang lezat dengan perpaduan rasa dan manis
dari sebuah rujak berubah menjadi khayalan semata. Meski sejatinya hidangan
rujak sangat erat hubungannya dengan cabe, mereka tak menyajikannya dengan rasa
yang sangat pedas. Mereka paham bahwa rasa pedas adalah rasa yang umum
digunakan. Bahkan bisa jadi akan ada banyak yang suka. Senior-senior itu justru
meraciknya dengan rasa khas dari air laut; asin. Katanya sih agar jiwa
perikanannya muncul. Sebab ikan-ikan yang lezat itu berasal dari laut dan air
laut itu rasanya asin. Ya tepat sekali, itu hanya dalil ngawur dari sebuah rasa
rujak yang tak karuan. Dalil ngawur yang digunakan untuk menutupi motif balas
dendamnya. Dalil ngawur yang akan menambah nilai sebuah kepuasan.
Rujak istimewa itu disajikan
dalam satu nampan kecil berwarna kuning. Mungkin ukurannya setara dengan 2 atau
3 piring makan. Nampan dengan motif buah anggur itu selanjutnya akan diputar
berkeling oleh tuan rumah. Sedangkan kita, sang tamu yang terhormat dan sedang
duduk tenang akan dipersilahkan untuk mengambil irisan buah dari rujak
tersebut. Sebenarnya sih lebih tepatnya dipaksa untuk mengambil, bukan
dipersilahkan.
"Selamat sore teman-teman. Perkenalkan nama saya Wahyu
Utomo dari Prabu Mulih, Palembang."
"Untuk keakraban kalian
boleh memanggilku dengan sebutanWahyu saja."
Sudah begitus aja. Ia kembali
diam, mulutnya terkunci rapat lalu kembali duduk tertunduk dengan
beralaskantanah. Masih ditempat yang sama di posisinya semula. Dia masih tetap
tak peduli dengan tanah yang mengotori celana jeans birunya.
Rujak dengan rasa istimewa itu
disajikan dalam satu nampan kecil. Mungkin ukurannya setaradengan 2 atau 3
piring makan. Selanjutnya nampan akan diputar berkeliling oleh tuan rumah.
Sedangkan kita, sang tamu terhormat yang sedang duduk tenang akan dipersilahkan
mengambil irisan buah dari rujak tersebut. Namun sepertinya kata yang lebih
tepat adalah dipaksa, bukan dipersilahkan. Sebab setiap orang wajib hukumnya
untukmengambil satu irisan. Tak boleh ada kata penolakan. Mereka sangat anti
dengan kalimat seperti itu. Boleh pilih ketimun, boleh pilih mangga muda, atau
boleh juga pilih apel. Kalau ingin rasa asinnya bercampur dengan yang segar
maka silahkan pilih irisan ketimun. Kalau rasa asinnya bercampur dengan yang
asem silahkan pilih irisan mangga muda. Sedangkan kalau ingin rasa asinnya
bercampur dengan yang asem dan seger maka silahkan pilih irisan apel. Masalah
pilih memilih yang satu ini kita dibebaskan. Ya mungkin seperti itulah sebuah
azas demokrasi yang sebenarnya dijalankan. Membebaskan setiap pemilih untuk
memilih yang dikehendaki tanpa paksaan sedikitpun. Sekalipun kita sudah tahu
kalau semua yang kita pilih itu sama. Sama kurang enaknya. Sama rasa
asinnya.
Tuan rumah akan terus membawa
nampannya. Berjalan berputar melewati barisan lingkaran yang telah kita buat.
Mereka akan menawarkan main course nya dengan segenap senyum ramah nan cantik.
Tak lupa juga sapaan akrab khas jawa timur turut mereka lemparkan kepada kami.
"Monggo mas, dipunsekecakaken," (silahkan mas, dinikmati) begitulah
kata mereka. Terus dan berulang seperti itu, sampai habis isi dalam nampan.
Namun jika lelah mereka akan bergantian menghidangkan. Tetap sama, siapa yang
dianggap paling rupawan dengan senyum yang paling menawan akan jadi si pembawa
nampan berikutnya. Terus dan berulang seperti itu, sampai habis isi dalam
nampan.
Tak ada minumnya, iya memang tak
ada minumnya. Meski sudah dipersiapkan sedari awal ternyata ia hanya berperan
sebagai pajangan semata. Seperti aksesoris pelengkap saat berlangsungnya sebuah
jamuan makan; properti. Bisa disentuh dan dilihat tapi tak bisa dinikmati.
Aturannya masih sama. Kita sebagai maba adalah tamu. Sedangkan senior adalah tuan
rumah. Tamu tak berkewajiban apa-apa kecuali hanya duduk dengan tenang dan
menikmati hidangan yang ada. Sedangkan tuan rumah berhak bahkan
mungkin harus dengan semena-mena menghidangkan apa saja yang mereka
punya. Juga harus mereka pula yang mempersilahkan kita minum. Tak ada rasa
basah dan segar dari seteguk air yang akan melewati kerongkongan jika belum ada
kata"silahkan diminum." Tak peduli sudah seasin apa dan semati apa
urat syaraf dimulutmu. Air yang segar itu tak akan pernah masuk dengan sendirinya
sebelum mantra pembuka diucapkan.
Nampan kuning yang tadi penuh
dengan rujak itu kini terlihat sudah berada diluar garis lingkaran kami.
Dibiarkan begitu saja dengan menyisakan cairan kental berwarna coklat.
Irisan-irisan buahnya sudah habis. Sudah melewati lidah dan tenggorokan kami
semua. Tak ada yang tersisa. Semua sudah dihaniskan dengan paksaan.
Beberapa anak terlihat memegangi
kedua pipinya. Mengelus-elusnya dengan satu tangan mengikuti bentuk rahang
bawah. Mungkin sedikit ngilu disana. Beberapa lagi terlihat diam saja dengan
keringat mengucur deras. Wahyu termasuk salah satunya. Terlihat dari baju yang
dikenakannya yang nampak basah. Beberapa lainnya lagi saling berbincang.
Kembali menanyakan nama, menanyakan asal, menanyakan tempat ngekost, menanyakan
akun Facebook dan tak lupa menanyakan nomor tepon dan pin BBM jika ada.
Pertanyaan dasar yang sering dipakai seorang maba untuk bertanya kepada rekan
sesamanya. Seperti sudah menjadi sebuah draft atau template wajib yang harus
digunakan. Memang tidak ada ketentuan seperti itu, tapi lazimnya memang harus
begitu. Sesekali beberapa anak tampak membuang ludah. Mungkin berusaha membuang
sisa rasa pedas atau rasa asin atau rasa yang tak karuan yang masih menempel di
dalam mulutnya.
Sebotol air mineral berukuran
besar 1500 ml kini mulai berkeliling. Belum ada yang menuang, hanya dipamerkan
di depan mata. Secara acak seorang senior kemudian menunjuk salah seorang
diantara kita. Huda anak Pasuruan, begitu yang aku tahu tentang dia saat
perkenalan tadi. Ia ditunjuk sebagai penuang pertama.
“Ingat botol ini hanya satu,
kalian usahakan bagaimana caranya cukup untuk semuanya,” begitu kata Ali,
senior dengan ciri khas rambut belah pinggir itu.
Huda yang sudah memegang botol
dari tadi akhirnya mulai meminumnya. Dengan perlahan ia mulai mendekatkan bibir
botol pada mulutnya. Seteguk saja, kemudian ia segera memindahkan botol itu ke
sampingnya, Soma. Ia pun juga terlihat dengan perlahan menuangkan air itu ke
mulutnya. Lalu botol berpindah ke anak di sampingnya, Lina. Begitu seterusnya.
Sayangnya ukuran minum air dengan takaran mulut masing-masing tak bisa di buat
acuan. Baru sampai pada setengah putaran air hanya tersisa sepertiganya. Tak
mungkin cukup untuk kita yang belum kebagian ini. Kami tak ingin hanya karena hal
seperti ini ada kata hukuman kepada kita. Mungkin sudah cukup puas merasakan
banyak hukuman ketika masa ospek. Tak memakai sepatu putih push up 10 kali.
Sepatu tak sesuai merek push up 10 kali. Barang bawaan tak lengkap seperti yang
sudah ditentukan push up 10 kali. Serta masih banyak hal lain yang bisa membuat
kita harus push up lagi dan lagi. Bukan latihan militer, ini hanya sekedar
pembiasaan disiplin saja. Begitu kata senior-senior panitia ospek saat itu.
Skemapun kami diganti,
masing-masing akan menuang air pada tutup botol saja. Hanya untuk melewati
aturan semua orang harus minum dari botol yang sama. Mungkin ini memang tak
adil, dan selalu akan di anggap tak adil. Namun hanya ini cara satu-satunya
yang paling masuk akal untuk dilakukan.
Virgo,15 Agustus 2019
Komentar
Posting Komentar