Seperti biasa, kami
berempat selalu pergi bersama-sama. Mencari makan, jalan-jalan, dan sesekali
saat berangkat kuliah, dan seperti yang telah kalian duga, kami tidak pernah
menyia-nyiakan setiap perjalanan kami tanpa menggoda perempuan.”Cabul” mungkin
itulah sebutan yang melekat di dahi kami. Sampai akhirnya kami membentuk sebuah
geng yang berisi empat orang
bersifat sinting kurasa, yang setia menggoda perempuan sampai Tuhan melaknat
kami dengan menambah sedikit ketampanan kami. Nama geng itu adalah
“F-cabul”, sebuah nama yang pasti akan
membuat bidadari di surga meludah pada kami. Anehnya adalah aku di tunjuk
sebagai ketua dari geng terkutuk ini. “kamu kan jarang ngomong yu, jadi kamu
aja yang jadi ketuanya” kata singgeh. Virgo menambahkan dengan ketegasannya
yang luar biasa “awakmu ae wes, skalian buat kamu belajar ngomong”. Entah apa
hubungannya antara banyak bicara dengan menjadi ketua dari sebuah geng yang
akan di hujat oleh banyak orang ini. Kurasa mereka hanya ingin menjadikanku
sebagai tumbal untuk di serahkan pada raja iblis dan menerima laknat Tuhan
Karena telah membuat geng penuh dosa ini.Nidhom ikut-ikutan berkicau“ iyo, awakmu ae yu, lek aku emoh di kongkon dadi ngenean” yang
artinya kamusaja, aku ga mau kalo di suruh melakukan hal seperti ini. Tiga
orang setuju dan 1 tidak, yang artinya aku harus merelakan diriku menerima
jabatan mengerikan ini.
Hidupku yang damai
kini menjadi sial setiap saat,semenjak aku menjadi ketua dari “F-cabul”. Motorku tiba-tiba rusak setelah
di service, bagaimana mungkin?,tugas
kuliah yang susah payah kukerjakan dengan mencontek sana sini hilang bak di
telan bumi, dan aku terjatuh darisepeda motor untuk beberapa kali, meskipun hanya sekedar luka ringan tapi aku tau kalau laknat
Tuhan telah dijatuhkan padaku, Kuharap raja iblis tidak datang menemuiku dan
mengucapkan “selamat” padaku. Aku mulai sedikit mengurangi kebiasaan mengggoda
karena kesialan yang sering terjadi padaku itu. “kamu kenapa yu?, gak kayak
biasanya” Tanya singgeh. “gakapa-apa” jawabku singkat. Aku tau, jika aku
mengatakan kalau aku diam karena seringnya terjadi kesialan padaku, mereka
tidakakan menunjukan ekspresi kasihan padaku, yang akan mereka lakukan kepadaku adalah
datang, menepuk pundakku, dan tertawa terbahak-bahak di depan ku. Sungguh sial nasibku.
Mungkin benar apa
yang dikatakan banyak orang, bahwa hidup itu singkat, seperti halnya waktu yang
berjalan. Kebersamaan kami pun mulai menghilang, bukan karena pertengkaran
kawan melainkan karena tak lama setelah diangkatnya aku sebagai ketua “F-cabul”, aku
memutuskan untuk pindah kos. Keinginanku ini disebabkan kamar kos yang
kutempati begitu kecil dan minim sinyal dengan harga kos yang tinggi,
seandainya itu sebuah penjara, pastilah itu penjara bintang lima, seperti yang
sering kulihat di dalam tv, dimana penjaranya terletak di tengah lautan dan
dikelilingi ikan hiu. Kepindahanku ini tidak hanya membebaskanku dari penjara bintang lima itu, tapi
juga membebaskanku dari kesialan atas dosaku sebagai ketua “F-cabul”. Luar
biasa kawan, LUAR BIASA dan
Terimakasih Tuhan telah Kau tunjukkan jalan kebenaran padaku
Tak lama setelah aku pindah, Singgeh dan nidhom pun juga pindah. Hanya saja mereka memiliki cerita yang berbeda.Hal ini karena mereka lebih mirip di usir dari pada disebut pindah. Kalian pasti bertanya mengapa bisa begitukan??.Sabarlah sebentar, mungkin kalian ingin mendengar cerita yan
lain dulu? Atau mungkin bernafas sejenak?. Ah, baiklah kalau kalian memang memaksa, akan kuceritakan sekarang, aku juga ingin segera menceritakannya sekarang. Ini lah yang sebenarnya terjadi Dalam kasus singgeh, dia mendapat pemberitahuan dari ibu kos kalau kos yang di tempatinya akan dilakukan renovasi, dengan kata lain dia harus segera mencari tempat” menggoda” lainnya, yang
kenyataannya adalah kamarnya tidak ada renovasi sampai dia pindah. Itulah kutukan yang dia dapat sebagai “F-cabul” kawan. Sedangkan pada kasus Nidhom,lebih parah, kurasa ini dikarenakan dia yang taat agama dengan lancangnya begitu saja masuk ke dalam geng penuh dosa ini sehingga Yang Maha Kuasa memberinya hukuman lebih. Setelah pulang kampung dari Lumajang, semua barang di dalam kamarnya telah berada di luar, seakan melambaikan tangan meminta pertolongan pada sang majikannya dan berkata “Nidhom tolong aku, aku telah
ditelantarkan bawa aku bersama mu” kurang lebih seperti itu. Akhirnya dia harus menginap di kos temannya sampai dia mendapatkan kos baru. Sungguh kasihan sekali bukan?, tidak, itu menyenangkan ha ha ha. Akhirnya
mereka merasakan apa yang kurasakan selama ini. Setelah mendengar kejadian itu,
aku datang pada mereka, menepuk pundaknya, menatap mata mereka dalam-dalam,
tersenyum lalu mengucapka selamat atas
laknat yang telah mereka terima. Tuhan memang maha adil kawan.Entah kesialan apa yang dialami Virgo, kurasa dia lebih memilih menyimpan ceritanya daripada membuat kami tertawa. Dengan pindahnya kami bertiga,tak ada lagi menggoda perempuan berjama’ah,
tak ada lagi berkumpul bersama atau pun hal-hal yang biasanya kami lakukan saat
masih berada dalam F-cabul, dengan begitu akhirnya “F-cabul”
dibubarkan dan aku selamat
dari kutukan “ketua F-cabul. Dan mungkin sekarang kita akan mengenangnya bukan sebagai F-cabul lagi
melainkan F-laknat.
Wahyu Utomo, 28 Januari 2014
Komentar
Posting Komentar