Langsung ke konten utama

F CAB#L



Seperti biasa, kami berempat selalu pergi bersama-sama. Mencari makan, jalan-jalan, dan sesekali saat berangkat kuliah, dan seperti yang telah kalian duga, kami tidak pernah menyia-nyiakan setiap perjalanan kami tanpa menggoda perempuan.”Cabul” mungkin itulah sebutan yang melekat di dahi kami. Sampai akhirnya kami membentuk sebuah geng yang berisi empat orang bersifat sinting kurasa, yang setia menggoda perempuan sampai Tuhan melaknat kami dengan menambah sedikit ketampanan kami. Nama geng itu adalah “F-cabul”,  sebuah nama yang pasti akan membuat bidadari di surga meludah pada kami. Anehnya adalah aku di tunjuk sebagai ketua dari geng terkutuk ini. “kamu kan jarang ngomong yu, jadi kamu aja yang jadi ketuanya” kata singgeh. Virgo menambahkan dengan ketegasannya yang luar biasa “awakmu ae wes, skalian buat kamu belajar ngomong”. Entah apa hubungannya antara banyak bicara dengan menjadi ketua dari sebuah geng yang akan di hujat oleh banyak orang ini. Kurasa mereka hanya ingin menjadikanku sebagai tumbal untuk di serahkan pada raja iblis dan menerima laknat Tuhan Karena telah membuat geng penuh dosa ini.Nidhom ikut-ikutan berkicau“ iyo, awakmu ae yu,  lek aku emoh di kongkon dadi ngenean” yang artinya kamusaja, aku ga mau kalo di suruh melakukan hal seperti ini. Tiga orang setuju dan 1 tidak, yang artinya aku harus merelakan diriku menerima jabatan mengerikan ini.
Hidupku yang damai kini menjadi sial setiap saat,semenjak aku menjadi ketua dari  “F-cabul”. Motorku tiba-tiba rusak setelah di service, bagaimana mungkin?,tugas kuliah yang susah payah kukerjakan dengan mencontek sana sini hilang bak di telan bumi, dan aku terjatuh darisepeda motor untuk beberapa kali, meskipun hanya sekedar luka ringan tapi aku tau kalau laknat Tuhan telah dijatuhkan padaku, Kuharap raja iblis tidak datang menemuiku dan mengucapkan “selamat” padaku. Aku mulai sedikit mengurangi kebiasaan mengggoda karena kesialan yang sering terjadi padaku itu. “kamu kenapa yu?, gak kayak biasanya” Tanya singgeh. “gakapa-apa” jawabku singkat. Aku tau, jika aku mengatakan kalau aku diam karena seringnya terjadi kesialan padaku, mereka tidakakan menunjukan ekspresi kasihan padaku, yang akan mereka lakukan kepadaku adalah datang, menepuk pundakku, dan tertawa terbahak-bahak di depan ku. Sungguh sial nasibku.
Mungkin benar apa yang dikatakan banyak orang, bahwa hidup itu singkat, seperti halnya waktu yang berjalan. Kebersamaan kami pun mulai menghilang, bukan karena pertengkaran kawan melainkan karena tak lama setelah diangkatnya aku sebagai ketua “F-cabul”, aku memutuskan untuk pindah kos. Keinginanku ini disebabkan kamar kos yang kutempati begitu kecil dan minim sinyal dengan harga kos yang tinggi, seandainya itu sebuah penjara, pastilah itu penjara bintang lima, seperti yang sering kulihat di dalam tv, dimana penjaranya terletak di tengah lautan dan dikelilingi ikan hiu. Kepindahanku ini tidak hanya membebaskanku dari penjara bintang lima itu, tapi juga membebaskanku dari kesialan atas dosaku sebagai ketua “F-cabul”. Luar biasa kawan, LUAR BIASA dan Terimakasih Tuhan telah Kau tunjukkan jalan kebenaran padaku
Tak lama setelah aku pindah, Singgeh dan nidhom pun juga pindah. Hanya saja mereka memiliki cerita yang berbeda.Hal ini karena mereka lebih mirip di usir dari pada disebut pindah. Kalian pasti bertanya mengapa bisa begitukan??.Sabarlah sebentar, mungkin kalian ingin mendengar cerita yan lain dulu? Atau mungkin bernafas sejenak?. Ah, baiklah kalau kalian memang memaksa, akan kuceritakan sekarang, aku juga ingin segera menceritakannya sekarang. Ini lah yang sebenarnya terjadi Dalam kasus singgeh, dia mendapat pemberitahuan dari ibu kos kalau kos yang di tempatinya akan dilakukan renovasi, dengan kata lain dia harus segera mencari tempat” menggoda” lainnya, yang kenyataannya adalah kamarnya tidak ada renovasi sampai dia pindah. Itulah kutukan  yang dia dapat sebagai “F-cabul” kawan. Sedangkan pada kasus Nidhom,lebih parah, kurasa ini dikarenakan dia yang taat agama dengan lancangnya begitu saja masuk ke dalam geng penuh dosa ini sehingga Yang Maha Kuasa memberinya hukuman lebih. Setelah pulang kampung dari Lumajang, semua barang di dalam kamarnya telah berada di luar, seakan melambaikan tangan meminta pertolongan pada sang majikannya dan berkata “Nidhom tolong aku, aku telah ditelantarkan bawa aku bersama mu” kurang lebih seperti itu. Akhirnya dia harus menginap di kos temannya sampai dia mendapatkan kos baru. Sungguh kasihan sekali bukan?, tidak, itu menyenangkan ha ha ha. Akhirnya mereka merasakan apa yang kurasakan selama ini. Setelah mendengar kejadian itu, aku datang pada mereka, menepuk pundaknya, menatap mata mereka dalam-dalam, tersenyum  lalu mengucapka selamat atas laknat yang telah mereka terima. Tuhan memang maha adil kawan.Entah kesialan apa yang dialami Virgo, kurasa dia lebih memilih menyimpan ceritanya daripada membuat kami tertawa. Dengan pindahnya kami bertiga,tak ada lagi menggoda perempuan berjama’ah, tak ada lagi berkumpul bersama atau pun hal-hal yang biasanya kami lakukan saat masih berada dalam F-cabul, dengan begitu akhirnya “F-cabul” dibubarkan dan aku selamat dari kutukan “ketua F-cabul. Dan mungkin sekarang kita akan mengenangnya bukan sebagai F-cabul lagi melainkan F-laknat.

Wahyu Utomo, 28 Januari 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hanya tinggal menghitung hari, Kondang Merak

        Hanya tinggal menghitung hari, 2012 segera berganti nama menjadi 2013. Ya, Sebentar lagi akan ada pergantian tahun dan seperti biasa, Lala adalah orang yang merencanakan acara pergantian tahun untuk GK.Saat itu kami sedang ada kuliah Kolokium dan Dosen masih belum juga datang. Dia memulainya dengan pertanyaan “eh rek, tahun baru iki enak e nang ndi?”. Melihat ekspresi anggota GK, sepertinya tidak ada yang berfikir untuk melewati pergantian tahun baru dengan sebuah rencana. Mungkin beberapa dari kami berfikir akan merayakan tahun baru sendiri-sendiri, seperti aku misalnya, yang berniat membiarkan tubuhku membusuk sepanjang hari di dalam kamar sampai tahun baru usai. Biasanya ketika ada rencana untuk pergi jalan-jalan ke suatu tempat, mereka semua akan mulai berisik dengan saran-saran tempat yang bermacam-macam. Misalnya Ricita yang menyarankan kami pergi ke sarangan di Magetan dan itu membuatku teringat kembali dengan tragedi kelinci, Nene mulai sibuk deng...