Langsung ke konten utama

Hanya tinggal menghitung hari, Kondang Merak



        Hanya tinggal menghitung hari, 2012 segera berganti nama menjadi 2013. Ya, Sebentar lagi akan ada pergantian tahun dan seperti biasa, Lala adalah orang yang merencanakan acara pergantian tahun untuk GK.Saat itu kami sedang ada kuliah Kolokium dan Dosen masih belum juga datang. Dia memulainya dengan pertanyaan “eh rek, tahun baru iki enak e nang ndi?”. Melihat ekspresi anggota GK, sepertinya tidak ada yang berfikir untuk melewati pergantian tahun baru dengan sebuah rencana. Mungkin beberapa dari kami berfikir akan merayakan tahun baru sendiri-sendiri, seperti aku misalnya, yang berniat membiarkan tubuhku membusuk sepanjang hari di dalam kamar sampai tahun baru usai. Biasanya ketika ada rencana untuk pergi jalan-jalan ke suatu tempat, mereka semua akan mulai berisik dengan saran-saran tempat yang bermacam-macam. Misalnya Ricita yang menyarankan kami pergi ke sarangan di Magetan dan itu membuatku teringat kembali dengan tragedi kelinci, Nene mulai sibuk dengan meneriakan kata-kata bromo yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Lala, lalu Isma dengan santainya menyarankan kami untuk berlibur ditepi jurang “ke tepi jurang sana lho, biar tambah dekat sama Tuhan”, Seperti biasa kata-katanya selalu singkat tak berperasaan. Hanya aku dan Virgo yang sepertinya tidak tertarik dengan pembicaraan mereka, sedangkan Zaki hanya mengangguk-angguk seolah setuju dengan semua keputusan yang mereka buat. Singgeh kemudian melontarkan sebuah saran yang terlihat meyakinkan. 
“eh, gimana kalo kita ke sendang biru. Aku sama Wahyu udah pernah kesana dan itu bagus banget tempatnya, iya kan yu?” dia berusaha meyakinkan anak-anak.
Aku hanya menjawabnya dengan singkat “emm, iya”
aku tau tempatnya memang bagus tapi untuk sampai kesana, setidaknya kami harus berjalan kaki beberapa kilometer lagi agar sampai di tempat tujuan, kami juga harus menyusuri sungai dengan ketinggian sedada orang dewasa, aku hampir saja kehilangan sandal saat melewati sungai itu, tapi rintangan yang harus dilalui memang sebanding dengan keindahan pantainya. Daerahnya masih asri, disana terdapat karang dengan berbagai macam bentuk, ada yang tampak seperti ketapel, ada yang terlihat seperti daun telinga gajah, dan disekitarnya terdapat ikan berwarna-warni yang seolah ingin menunjukkan bahwa itu adalah rumah mereka. Setelah bicara panjang lebar, debat sana sini, garuk garuk kepala dan ngupil sepenuh hati, akhirnya kami sepakat bahwa kami akan pergi ke KONDANG MERAK.
Selang beberapa saat setelah penentuan jadwal tahun baru yang panjang, akhirnya dosen yang di tunggu datang, menghentikan pembicaraan sebelum mereka semakin semena-mena dengan tujuanku untuk melewati tahun baru dengan damai. Akhirnya kami menghabiskan tahun baru di kondang Merak dengan merenggut harapanku utuk tidur seharian di kos.
Aku dibonceng Huda, seorang pria yang awalnya ingin kami jodohkan dengan Nene, tapi apa daya, karena Nene ternyata membawa Jimmy bersamanya. Maka formasi keberangkatan yang kami gunakan adalah Nene dengan Jimmy, Singgeh dengan Vita, Virgo dengan Lala, Zaki dengan Ricita, Nidhom dengan Isma, dan aku dengan Huda. Tunggu dulu, kenapa hanya aku yang berangkat dengan laki-laki? Ah, lupakan. Ditengah perjalanan kami membeli beberapa kembang api dan sebuah bola plastik yang tak berkualitas, benar-benar tak berkualitas.
Setelah sekian lama perjalanan, akhirnya kami sampai ditempat tujuan, kulihat laut biru yang luas menghampar tampak tak berbatas, sinar mentari seperti menyirami seluruh tubuh kami, lalu tumpukan pasir yang sedang dicuci air laut memantulkan cahaya menyilaukan, betapa indahnya tempat ini. Tak jauh dari pantai, kulihat beberapa orang sibuk mendirikan tenda. Sepertinya bukan hanya kami yang akan menghabiskan tahun baru disini. Tanpa membuang waktu, kami pun langsung mendirikan tenda tapi satu hal yang harusnya kami tau, yaitu cara mendirikan tenda. Tidak ada satupun dari GK yang berpengalaman dengan hal seperti ini. Kulihat ke arah Nene, sepertinya dia tampak bingung, entahkarena perangkat tenda yang terpisah-pisah atau karena dua orang yang menyukainya berada di satu tempat.  Kualihkan pandanganku ke Virgo, berharap dia bisa melakukan sesuatu dengan kondisi ini atau kami akan tidur tanpa atap malam ini, tapi yang kulihat dia hanya sibuk membongkar peralatan tenda, mencoba menyusunnya, lalu dibongkar lagi, dia seperti sedang bermain puzzle. Beruntungnya kami memiliki Huda yang sepertinya cukup berpengalaman dengan masalah pasang-memasang tenda. kasihan dengan keterbatasan kami, Huda langsung memberikan instruksi.
“masukkan besinya ke lubang tenda, itu buat kerangka tendanya. Terus tancapkan ketanah” teriaknya seperti komandan TNI yang habis diceraikan istrinya, kencang bukan main suaranya.
 Setelah cukup lama berjibaku dengan  waktu, akhirnya tenda yang kami tunggu berdiri gagah tak tergoyahkan. Sambil menunggu malam pergantian, tibalah giliran bola tak berkualitas untuk dimainkan, atau lebih tepatnya untuk diberi pelajaran. Belum sampai tiga menit Virgo sudah menginjak bolanya hingga tak berdaya, di menit berikutnya giliranku yang melakukannya, seakan belum puas dengan semua kekejaman itu, Huda menendang bola itu tak berperasaan yang menyebabkan bola penuh cekungan disana sini. Akibat perbuatan kami yang tidak berprikebolaan, maka tampaklah bola itu seperti preman SMP yang dibombardir Hitler, babak belur kawan.
Huda bukanlah salah satu dari GK, dia adalah ketua tingkat anak-anak jurusan Budidaya Perairan angkatan 2009, Biasa di panggil KATING (Ketua tingkat). Seperti yang telah kukatakan sebelumnya, kami mengajak Huda dengan harapan Nene bisa menjadi lebih dekat dengan Huda. Sudah menjadi rahasia umum kalau Huda menyukai Nene, dan menurut kami Huda akan menjadi pasangan yang baik untuk Nene. Sayangnya rencana tinggal rencana, Tuhan telah berkehendak lain. Malamnya kami menyalakan kembang api tepat pada pukul dua belas malam. Seakan sisa-sisa kutukan dari F-Cabul masih tak rela melepas kami , Kembang api yang kami bayar dengan harga mahal ternyata hanya bertahan selama 3 menit. Gadis-gadis berteriak kecewa pada kami yang telah membelinya dengan mengorbankan uang jajan. “eeh, Cuma gitu doang?” seperti biasa, Isma yang terlalu jujur dengan perasaannya melemparkan kami kedalam rasa malu. Sebelas-duabelas dengan Isma, Nene ikut berkomentar, “iya, apaan itu. Cuma sebentar gitu, gak seru ah”.
Ingin sekali ku kutuk penjual kembang api itu, uang jajan kami hilang hanya dalam tiga menit dan komentar yang kami dapatkan tak lebih dari hinaan. Apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur kacang ijo. Yang terjadi biarlah terjadi. Malam jadi semakin kelam, semuanya sudah tidur kecuali aku dan huda. Kami berdua berbagi cerita, yah sebenarnya hanya huda yang bercerita. Dia menceritakan tentang perasaaannya kepada nene, tentang betapa berharapnya dia, tentang betapa putus asanya dia, dan aku masih membayangkan bagaimana mungkin kembang api yang sudah kami beli dengan harga mahal hanya bertahan selama tiga menit. Meskipun begitu huda terus bercerita kepadaku sepanjang malam, dan aku terus menyesal karena telah membeli kembang api itu. Sesekali dia menatapku, kemudian melanjutkan lagi ceritanya. Mungkin saat itu huda berfikir kalau aku juga bisa ikut merasakan kesedihan yang dia rasakan, tapi sebenarnya tidak kawan, tidak sama sekali.
Keesokan harinya kami mencari buah keben yang akan digunakan untuk penelitian oleh Huda dan Zaki. Kami sudah seperti sekelompok orang yang terdampar di sebuah pulau, menyusuri pantai, mendaki tebing yang terjal hanya demi beberapa buah keben. Setelah perjalanan yang cukup sulit itu, akhirnya kami menemukan pohonnya. Seolah ingin membuktikan bahwa teori evolusi darwin itu benar, Huda dan Zaki dengan cepat memanjat pohon, dari batang pohon yang  satu langsung ke batang pohon yang lain, memisahkan setiap buah dari tangkainya. Sedangkan kami yang tidak setuju dengan teori evolusi darwin hanya menunggu di bawah menunggu buah keben itu jatuh satu persatu. Setelah mendapatkan apa yang di inginkan, kami kembali ke tenda dan mengupas buah tersebut lalu membawanya pulang. Di bawah ini adalah foto Singgih, salah satu GK yang sedang mengalami depresi berat. Kupersilahkan pada kalian untuk tertawa sepuasnya. 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

F CAB#L

Seperti biasa, kami berempat selalu pergi bersama-sama. Mencari makan, jalan-jalan, dan sesekali saat berangkat kuliah, dan seperti yang telah kalian duga, kami tidak pernah menyia-nyiakan setiap perjalanan kami tanpa menggoda perempuan.”Cabul” mungkin itulah sebutan yang melekat di dahi kami. Sampai akhirnya kami membentuk sebuah geng yang berisi empat orang bersifat sinting kurasa, yang setia menggoda perempuan sampai Tuhan melaknat kami dengan menambah sedikit ketampanan kami . Nama geng itu adalah “F-cabul”,  sebuah nama yang pasti akan membuat bidadari di surga meludah pada kami. Anehnya adalah aku di tunjuk sebagai ketua dari geng terkutuk ini. “kamu kan jarang ngomong yu, jadi kamu aja yang jadi ketuanya” kata singgeh. Virgo menambahkan dengan ketegasannya yang luar biasa “awakmu ae wes, skalian buat kamu belajar ngomong”. Entah apa hubungannya antara banyak bicara dengan menjadi ketua dari sebuah geng yang akan di hujat oleh banyak orang ini. Kurasa mereka hanya ingi...