Langsung ke konten utama

27 Maret 2014 "Kita Bersama; Lagi"


Hari masih pagi tapi Tiba-tiba suara hp ku berdering dengan kejamnya mengganggu tidur ku yang pulas. Dengan mata setengah terbuka aku mengintip layar hpku, kulihat nama Nene disana. Bocah ingusan itulah yang telah mengganggu kerajaan mimpiku.
“haloo, kenapa ne?”
“kamu dimana? Ini sekarang aku di kos Lala. Kamu bisa jemput aku ga?” tanpa memberiku celah untuk bicara, dia memerintahku semena-mena seperti biasanya.
“oke.” jawab ku singkat tak bersemangat
“bagus.” katanya antusias
 sebenarnya itu tidak bagus untukku kawan. Pukul 07.00 aku berangkat ke kos Lala, bukan untuk menemui Lala, karena Lala sendiri sedang berkerja di BNI. Tujuanku ke kos Lala adalah untuk mematuhi perintah wanita gila satu ini. Pertama kali keluar dari kos Lala aku melihat Nene dengan dandanan anehnya. Bedaknya tebal seperti habis disebul asap knalpot bajaj, pipinya dibuat sangat merah seperti dandanan badut yang hendak melakukan pertunjukan besar, dan lingkaran matanya menghitam seperti kekurangan tidur. Apakah semua pegawai telkomsel memang selalu berdandan seperti ini.
“eh, apa itu? Pipimu kok merah banget. Habis ditonjok siapa?” pertanyaan itu kulontarkan penuh dendam karena telah mengganggu tidurku yang lelap.
“eh masa’? Aku ga tau kalo sampe merah, soalnya di kos Lala gelap banget” sambil mengelap pipinya dengan sehelai tisu.
Sebagai mahasiswa yang tidak lulus-lulus, aku mengajaknya ke kampus karena aku ada kuliah. Kutitipkan dia di lab repro pada pak Udin dengan KTM sebagai jaminan. Sebelum masuk kelas dia memberikankku sebuah buku diary dengan warna pink, terlihat sangat feminim. Itu adalah kado dari GK pada ulang tahunnya yang ke-22. Kemudian dia menyuruhku utuk menuliskan sesuatu dibuku hina itu. Masalahnya adalah waktu yang diberikan sedikit karena dia harus kembali lagi ke sidoarjo pada hari itu juga, jadi aku harus menulisnya ketika jam pelajaran kuliah dimulai, maka terjadilah tragedi buku merah muda. Ketika jam pelajaran dimulai, aku mengeluarkan buku hina itu, bukan untuk mencatat materi yang diberikan dosen, melainkan untuk menulis sesuatu yang sebenarnya aku sendiri tidak tau apa yang sedang kutulis. Aku lebih fokus pada bagaimana caranya agar saat menulis di buku hina itu tidak ada yang melihatku. Saat aku mulai menulis sesuatu di buku itu, perempuan yang duduk di sebelahku langsung menatapku dengan wajah heran, lalu menoleh ke dosen yang sedang menjelaskan seolah-olah dia tidak melihat apa-apa. Kurasa dia sedang berfikir ---pria ini jangan-jangan bencong---. Bisakkah kau banyangkan kawan??. Hari itu serasa habis sudah karirku dikelas ini. Padahal sebagai mahasiswa tua yang tidak lulus-lulus saja sudah cukup terhina, dan sekarang aku akan di cap sebagai bencong. Setelah selesai dari kuliah yang melelahkan itu, kami langsung berangkat ke kos singgeh menunggu hingga sore karena rencananya GK akan berkumpul dalam rangka traktiran wisuda Nene yang sedikit terlambat.
Kami berkumpul di kos Virgo karena kos Lala sendiri sudah pindah jauh, dan seperti sudah sering terjadi, Veryl adalah orang terakhir yang datang dan tiba-tiba dia menyapaku
“hai pria single.” Katanya penuh hinaan.
 Aku hanya diam tak bisa membalasnya. Tiba-tiba dia melanjutkan kata-katanya.
“ga apa-apa, aku juga pria single kok”
Pernyataan mengejutkan itu membuat anggota GK yang ada berteriak histeris, mereka mengerubungi Verly seperti semut yang melihat gula, dan lalat yang melihat tumpukan kotoran. mereka semua menanyakan pertanyaan yang biasa ditanyakan ketika ada seseorang yang putus dari pacarnya. Seperti Kenapa?, Kok bisa?, Kapan?, dan pertanyaan pertanyaan lain yang sebenarnya tidak berpengaruh pada kehidupan mereka. Dan pertanyaan-pertanyaan itu hanya dijawab santai oleh Veryl.
“halaah, putus satu? Biasaa” jawabnya dengan wajah tanpa beban dan tanpa ekspresi.
GK seperti terkena serangan jantung kecil mendengar jawaban yang kurang memuaskan itu. Wajah mereka masam kecut, menoleh kanan-kiri seperti habis hilang ingatan, dan Veryl hanya memasang wajah datar andalannya. (‘_’)
Setelah puas melihat ekspresi datar Veryl, kami langsung bergegas menuju “lesehan tedy”, tempat dimana seseorang menjual ikan bakar yang sebenarnya lebih mirip ikan asap. Tempat pembakarannya berada diluar ruangan, tapi cukup dekat dengan meja makan. Ketika pemilik warung mulai membakar ikannya, asap hasil dari pembakaran ikan mengepul memenuhi seluruh meja makan kami, seolah ingin disantap oleh seseorang. Setelah puas makan asap, benar-benar makan asap. Akhirnya ikan bakar yang kami tunggu datang juga. Sebelum kami menyantap hidangan itu, tiba-tiba datanglah sekelompok kue dengan tulisan-tulisan berwarna-warni. Bukan, tulisannya bukan turut berduka cita atau sebagainya, tapi “HBD wahyu, we love you”. Mereka merayakan ulang tahunku lebih cepat dari seharusnya. bagian sialnya adalah ketika Lala me mbaca tulisanku di buku diary pink milik Nene, tiba-tiba di berkomentar kalau ternyata tulisanku itu lebih mirip surat cinta. Kupikir tragedi buku merah muda itu sudah selesai, ternyata masih berlanjut. Lala mulai membacakan tulisanku itu, dan setelah aku mendengarnya, tulisanku itu benar-benar seperti surat cinta. sejujurnya aku tidak pernah menulis surat cinta, tapi aku tau karena pernah menonton beberapa film yang menunjukkan surat cinta. terus terang kawan, konsep yang sebenarnya ingin kubuat dalam tulisan itu adalah bagaimana persahabatan yang sudah lama terjadi diantara kami berdua dan itu menjadi sesuatu persahabatan yang sangat berharga, selain itu juga aku ingin memberinya beberapa saran supaya dia tidak terlalu sering menangis, kuharap setelah mendengar nasehat-nasehat bijak yang kuberikan, dia jadi lebih dewasa dan tidak membuat posisi pacarnya menjadi  sulit. Tapi harapan tinggalah harapan, konsep yang sudah kubuat hancur begitu saja, sesuatu yang tadinya tentang persahabatan malah jadi seperti acara penembakan. Setelah Lala selesai membacakannya, aku diam seribu bahasa, tenggorokkanku seperti disumpal batok kelapa. Sekarang aku mengerti mengapa seorang penulis membutuhkan tempat yang nyaman dan sepi untuk menulis, alasannya adalah agar tidak keluar dari konteks yang sudah dirancang oleh mereka sebelumnya. Setelah kejadian ini, aku bertekat untuk tidak menulis di buku warna pink dengan keramaian disekitarku, itu buruk sekali kawan.
perut yang mulai berteriak minta di isi membuat Ikan bakar yang dari tadi menunggu untuk di santap ludes tak berbekas, kepalanya hancur seperti habis dilindas truk, pelakunya tidak lain dan tidak bukan adalah Virgo dan Veryl. Mereka makan seperti hewan buas yang belum makan selama sebulan. Bahkan kue ulang tahun yang ada di tangan Lala, disambar bak petir oleh Virgo. Tak pelak hal itu membuat pasangan suami istri ini bertengkar seperti biasanya. Aku dan singgeh hanya menatap mereka berfikir heran bagaimana mungkin mereka bisa bertengkar setiap saat tapi bisa bertahan selama tiga tahun. Sesekali aku dan singgeh menirukan gaya mereka bertengkar. Lalu Kulihat Isma, sepertinya dia sedang sibuk menguliti atasan kue ulang tahun, Isma memang tidak begitu menyukai makanan yang terlalu manis. Setelah selesai menguliti atasan kue, dia langsung memberikannya padaku. Rasa manisnya benar-benar eneg, seperti semua bahannya terbuat dari gula. setelah selesai mencicipi atasan kue yang diberikan isma, sekarang giliranku memakan atasan kue ku sendiri. Melihat wajahku yang seperti hendak terkena diabetes, Isma langsung menawarkan diri untuk menguliti atasan kue ku. Ooh, tidak hanya cantik tapi dia juga perempuan yang baik, beruntunglah laki-laki yang mendapatkannya.
Setelah selesai dengan semua itu, kami bergegas pulang. Aku segera menghampiri motorku yang sedang terparkir, kulihat ada jas hujan menutupi motorku sesuka hatinya. Pikirku---manusia macam apa yang menaruh jas hujan se-enaknya. Hampir saja aku membuangnya, tapi ada sebuah kertas yang terjatuh ketika aku mengangkat jas hujan tersebut. HBD wahyuu. Jomblo itu keren tapi punya pasangan lebih greget. Ternyata jas hujan itu adalah kado untukku, mereka tau kalau selama ini aku tidak pernah punya jas hujan padahal di malang sering hujan. Seperti biasa mereka tidak memberiku sesuatu yang kuinginkan tapi selalu memberi apa yang aku butuhkan. Mungkin inilah persahabatan yang sebenarnya kawan, apa kalian setuju denganku?.


Komentar

  1. Because we're family..and will forever so...
    the distance just a little things,

    Out of sight near by heart..*peluksatusatu* .isma

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hanya tinggal menghitung hari, Kondang Merak

        Hanya tinggal menghitung hari, 2012 segera berganti nama menjadi 2013. Ya, Sebentar lagi akan ada pergantian tahun dan seperti biasa, Lala adalah orang yang merencanakan acara pergantian tahun untuk GK.Saat itu kami sedang ada kuliah Kolokium dan Dosen masih belum juga datang. Dia memulainya dengan pertanyaan “eh rek, tahun baru iki enak e nang ndi?”. Melihat ekspresi anggota GK, sepertinya tidak ada yang berfikir untuk melewati pergantian tahun baru dengan sebuah rencana. Mungkin beberapa dari kami berfikir akan merayakan tahun baru sendiri-sendiri, seperti aku misalnya, yang berniat membiarkan tubuhku membusuk sepanjang hari di dalam kamar sampai tahun baru usai. Biasanya ketika ada rencana untuk pergi jalan-jalan ke suatu tempat, mereka semua akan mulai berisik dengan saran-saran tempat yang bermacam-macam. Misalnya Ricita yang menyarankan kami pergi ke sarangan di Magetan dan itu membuatku teringat kembali dengan tragedi kelinci, Nene mulai sibuk deng...

F CAB#L

Seperti biasa, kami berempat selalu pergi bersama-sama. Mencari makan, jalan-jalan, dan sesekali saat berangkat kuliah, dan seperti yang telah kalian duga, kami tidak pernah menyia-nyiakan setiap perjalanan kami tanpa menggoda perempuan.”Cabul” mungkin itulah sebutan yang melekat di dahi kami. Sampai akhirnya kami membentuk sebuah geng yang berisi empat orang bersifat sinting kurasa, yang setia menggoda perempuan sampai Tuhan melaknat kami dengan menambah sedikit ketampanan kami . Nama geng itu adalah “F-cabul”,  sebuah nama yang pasti akan membuat bidadari di surga meludah pada kami. Anehnya adalah aku di tunjuk sebagai ketua dari geng terkutuk ini. “kamu kan jarang ngomong yu, jadi kamu aja yang jadi ketuanya” kata singgeh. Virgo menambahkan dengan ketegasannya yang luar biasa “awakmu ae wes, skalian buat kamu belajar ngomong”. Entah apa hubungannya antara banyak bicara dengan menjadi ketua dari sebuah geng yang akan di hujat oleh banyak orang ini. Kurasa mereka hanya ingi...