Hari
masih pagi tapi Tiba-tiba suara hp ku berdering dengan kejamnya mengganggu
tidur ku yang pulas. Dengan mata setengah terbuka aku mengintip layar hpku,
kulihat nama Nene disana. Bocah ingusan itulah yang telah mengganggu kerajaan
mimpiku.
“haloo,
kenapa ne?”
“kamu
dimana? Ini sekarang aku di kos Lala. Kamu bisa jemput aku ga?” tanpa memberiku
celah untuk bicara, dia memerintahku semena-mena seperti biasanya.
“oke.”
jawab ku singkat tak bersemangat
“bagus.”
katanya antusias
sebenarnya itu tidak bagus untukku kawan.
Pukul 07.00 aku berangkat ke kos Lala, bukan untuk menemui Lala, karena Lala
sendiri sedang berkerja di BNI. Tujuanku ke kos Lala adalah untuk mematuhi
perintah wanita gila satu ini. Pertama kali keluar dari kos Lala aku melihat
Nene dengan dandanan anehnya. Bedaknya tebal seperti habis disebul asap knalpot
bajaj, pipinya dibuat sangat merah seperti dandanan badut yang hendak melakukan
pertunjukan besar, dan lingkaran matanya menghitam seperti kekurangan tidur.
Apakah semua pegawai telkomsel memang selalu berdandan seperti ini.
“eh,
apa itu? Pipimu kok merah banget. Habis ditonjok siapa?” pertanyaan itu
kulontarkan penuh dendam karena telah mengganggu tidurku yang lelap.
“eh
masa’? Aku ga tau kalo sampe merah, soalnya di kos Lala gelap banget” sambil
mengelap pipinya dengan sehelai tisu.
Sebagai
mahasiswa yang tidak lulus-lulus, aku mengajaknya ke kampus karena aku ada
kuliah. Kutitipkan dia di lab repro pada pak Udin dengan KTM sebagai jaminan.
Sebelum masuk kelas dia memberikankku sebuah buku diary dengan warna pink, terlihat
sangat feminim. Itu adalah kado dari GK pada ulang tahunnya yang ke-22.
Kemudian dia menyuruhku utuk menuliskan sesuatu dibuku hina itu. Masalahnya
adalah waktu yang diberikan sedikit karena dia harus kembali lagi ke sidoarjo
pada hari itu juga, jadi aku harus menulisnya ketika jam pelajaran kuliah
dimulai, maka terjadilah tragedi buku merah muda. Ketika jam pelajaran dimulai,
aku mengeluarkan buku hina itu, bukan untuk mencatat materi yang diberikan
dosen, melainkan untuk menulis sesuatu yang sebenarnya aku sendiri tidak tau
apa yang sedang kutulis. Aku lebih fokus pada bagaimana caranya agar saat
menulis di buku hina itu tidak ada yang melihatku. Saat aku mulai menulis
sesuatu di buku itu, perempuan yang duduk di sebelahku langsung menatapku
dengan wajah heran, lalu menoleh ke dosen yang sedang menjelaskan seolah-olah
dia tidak melihat apa-apa. Kurasa dia sedang berfikir ---pria ini jangan-jangan
bencong---. Bisakkah kau banyangkan kawan??. Hari itu serasa habis sudah
karirku dikelas ini. Padahal sebagai mahasiswa tua yang tidak lulus-lulus saja
sudah cukup terhina, dan sekarang aku akan di cap sebagai bencong. Setelah selesai
dari kuliah yang melelahkan itu, kami langsung berangkat ke kos singgeh
menunggu hingga sore karena rencananya GK akan berkumpul dalam rangka traktiran
wisuda Nene yang sedikit terlambat.
Kami
berkumpul di kos Virgo karena kos Lala sendiri sudah pindah jauh, dan seperti
sudah sering terjadi, Veryl adalah orang terakhir yang datang dan tiba-tiba dia
menyapaku
“hai
pria single.” Katanya penuh hinaan.
Aku hanya diam tak bisa membalasnya. Tiba-tiba
dia melanjutkan kata-katanya.
“ga
apa-apa, aku juga pria single kok”
Pernyataan
mengejutkan itu membuat anggota GK yang ada berteriak histeris, mereka
mengerubungi Verly seperti semut yang melihat gula, dan lalat yang melihat
tumpukan kotoran. mereka semua menanyakan pertanyaan yang biasa ditanyakan
ketika ada seseorang yang putus dari pacarnya. Seperti Kenapa?, Kok bisa?,
Kapan?, dan pertanyaan pertanyaan lain yang sebenarnya tidak berpengaruh pada
kehidupan mereka. Dan pertanyaan-pertanyaan itu hanya dijawab santai oleh
Veryl.
“halaah, putus satu?
Biasaa” jawabnya dengan wajah tanpa beban dan tanpa ekspresi.
GK
seperti terkena serangan jantung kecil mendengar jawaban yang kurang memuaskan
itu. Wajah mereka masam kecut, menoleh kanan-kiri seperti habis hilang ingatan,
dan Veryl hanya memasang wajah datar andalannya. (‘_’)
Setelah
puas melihat ekspresi datar Veryl, kami langsung bergegas menuju “lesehan
tedy”, tempat dimana seseorang menjual ikan bakar yang sebenarnya lebih mirip
ikan asap. Tempat pembakarannya berada diluar ruangan, tapi cukup dekat dengan
meja makan. Ketika pemilik warung mulai membakar ikannya, asap hasil dari
pembakaran ikan mengepul memenuhi seluruh meja makan kami, seolah ingin
disantap oleh seseorang. Setelah puas makan asap, benar-benar makan asap.
Akhirnya ikan bakar yang kami tunggu datang juga. Sebelum kami menyantap
hidangan itu, tiba-tiba datanglah sekelompok kue dengan tulisan-tulisan
berwarna-warni. Bukan, tulisannya bukan turut berduka cita atau sebagainya,
tapi “HBD wahyu, we love you”. Mereka merayakan ulang tahunku lebih cepat dari
seharusnya. bagian sialnya adalah ketika Lala me mbaca tulisanku di buku diary
pink milik Nene, tiba-tiba di berkomentar kalau ternyata tulisanku itu lebih
mirip surat cinta. Kupikir tragedi buku merah muda itu sudah selesai, ternyata
masih berlanjut. Lala mulai membacakan tulisanku itu, dan setelah aku
mendengarnya, tulisanku itu benar-benar seperti surat cinta. sejujurnya aku
tidak pernah menulis surat cinta, tapi aku tau karena pernah menonton beberapa
film yang menunjukkan surat cinta. terus terang kawan, konsep yang sebenarnya
ingin kubuat dalam tulisan itu adalah bagaimana persahabatan yang sudah lama
terjadi diantara kami berdua dan itu menjadi sesuatu persahabatan yang sangat
berharga, selain itu juga aku ingin memberinya beberapa saran supaya dia tidak
terlalu sering menangis, kuharap setelah mendengar nasehat-nasehat bijak yang
kuberikan, dia jadi lebih dewasa dan tidak membuat posisi pacarnya menjadi sulit. Tapi harapan tinggalah harapan, konsep
yang sudah kubuat hancur begitu saja, sesuatu yang tadinya tentang persahabatan
malah jadi seperti acara penembakan. Setelah Lala selesai membacakannya, aku
diam seribu bahasa, tenggorokkanku seperti disumpal batok kelapa. Sekarang aku
mengerti mengapa seorang penulis membutuhkan tempat yang nyaman dan sepi untuk
menulis, alasannya adalah agar tidak keluar dari konteks yang sudah dirancang
oleh mereka sebelumnya. Setelah kejadian ini, aku bertekat untuk tidak menulis
di buku warna pink dengan keramaian disekitarku, itu buruk sekali kawan.
perut
yang mulai berteriak minta di isi membuat Ikan bakar yang dari tadi menunggu
untuk di santap ludes tak berbekas, kepalanya hancur seperti habis dilindas
truk, pelakunya tidak lain dan tidak bukan adalah Virgo dan Veryl. Mereka makan
seperti hewan buas yang belum makan selama sebulan. Bahkan kue ulang tahun yang
ada di tangan Lala, disambar bak petir oleh Virgo. Tak pelak hal itu membuat
pasangan suami istri ini bertengkar seperti biasanya. Aku dan singgeh hanya
menatap mereka berfikir heran bagaimana mungkin mereka bisa bertengkar setiap
saat tapi bisa bertahan selama tiga tahun. Sesekali aku dan singgeh menirukan
gaya mereka bertengkar. Lalu Kulihat Isma, sepertinya dia sedang sibuk
menguliti atasan kue ulang tahun, Isma memang tidak begitu menyukai makanan
yang terlalu manis. Setelah selesai menguliti atasan kue, dia langsung
memberikannya padaku. Rasa manisnya benar-benar eneg, seperti semua bahannya
terbuat dari gula. setelah selesai mencicipi atasan kue yang diberikan isma,
sekarang giliranku memakan atasan kue ku sendiri. Melihat wajahku yang seperti
hendak terkena diabetes, Isma langsung menawarkan diri untuk menguliti atasan
kue ku. Ooh, tidak hanya cantik tapi dia juga perempuan yang baik, beruntunglah
laki-laki yang mendapatkannya.
Setelah
selesai dengan semua itu, kami bergegas pulang. Aku segera menghampiri motorku
yang sedang terparkir, kulihat ada jas hujan menutupi motorku sesuka hatinya.
Pikirku---manusia macam apa yang menaruh jas hujan se-enaknya. Hampir saja aku
membuangnya, tapi ada sebuah kertas yang terjatuh ketika aku mengangkat jas
hujan tersebut. HBD wahyuu. Jomblo itu
keren tapi punya pasangan lebih greget. Ternyata jas hujan itu adalah kado
untukku, mereka tau kalau selama ini aku tidak pernah punya jas hujan padahal
di malang sering hujan. Seperti biasa mereka tidak memberiku sesuatu yang
kuinginkan tapi selalu memberi apa yang aku butuhkan. Mungkin inilah
persahabatan yang sebenarnya kawan, apa kalian setuju denganku?.
Because we're family..and will forever so...
BalasHapusthe distance just a little things,
Out of sight near by heart..*peluksatusatu* .isma