Zaki, siapa sangka jika pria kelahiran
kediri ini ternyata telah lama memendam rasa pada seorang wanita berdarah
magetan yang tidak lain adalah Ricita. Berbagai cara telah diusahakannya untuk
menarik perhatian Ricita, mulai dari mengajaknya makan bareng hingga mengupil
di depan Ricita mengajaknya jalan-jalan, tapi dia tak bergeming sedikitpun.
Ricita malah memilih pria lain untuk di jadikannya pacar. Tentu saja hal ini
membuat hatinya hancur berserakan seperti upil di bawah meja, tak terhitung
jumlahnya kawan. Seorang wanita yang dicintainya telah berpaling mencintai
orang lain, wanita yang selalu dibawanya ke dalam mimpi kini hilang dari
harapannya.
Setiap kali Virgo, aku dan Zaki tidur di
kos Virgo dimana pasti akulah orang yang terlambat untuk tidur, biasanya
kudengar Zaki mengigaukan nama Ricita. Pertama kudengar suara-suara tak jelas
yang ternyata berasal dari Zaki.
“zak, kamu kenapa?” tanyaku
:”eeeemmm, Riciita” erang nya seperti
pasien sekarat
“Zaki?” kataku sekali lagi
“Ricitaa” dia masih tetap dalam
hayalannya
“Zak, kamu udang tidur apa belum sih?”
kucoba untuk memastikan kesadarannya.
Dia diam tak menjawab
Cukup
lama kami berdua terdiam lalu selang beberapa menit
“Eh,
enek duek reeek!” Virgo tiba-tiba berteriak kencang.
Entah
Virgo sedang bermimpi apa, mungkin dia sedang menemukan uang di tengah jalan,
lagi. Setelah itu kubiarkan saja mereka mengigau sesukannya. Siapa yang peduli
dengan mimpi sialan mereka.
Kembali ke cerita cinta segitiga tadi,
atau mungkin cinta yang tak berbalas. Sejak Ricita memilih pria lain, selalu
terlukis kesedihan di wajah Zaki. Dia jadi semakin sering bolos ngaji di pondok
dan begadang denganku di kos Virgo. Aku jadi senang karena akhirnya memiliki
teman untuk diajak begadang. Tapi sebagai teman yang baik, tidak sombong, dan
suka menolong, akhirnya ku ajak dia untuk mendiskusikan masalahnya. Sebenarnya
karena sepanjang malam kami hanya bisa terdiam, Zaki tidak mau cerita dan aku
tidak punya cerita. Jadilah kami berdua tampak seperti sepasang kekasih yang
sedang bertengkar mempermasalahkan upil siapa yang paling bagus. Jadi untuk
menghindari itu, ku coba untuk membuka obrolan.
“Zak, kamu kenapa? Kok keliatannya kayak
sedih terus gitu.”
“aku bingung yu, Ricita ini mau tak
kejar terus atau berhenti aja ya?” jawabnya lirih
Aku
yang sedang menyalakan laptop langsung saja kuputar lagu fall for you dari
secondhand serenade.
Zaki melanjutkan ceritanya “kadang
aku ngerasa kalo aku ga Cuma suka sama Ricita aja tapi ada perempuan lain yang
tak suka juga, menurutmu gmana yu?”
Aku
terdiam sejenak, sebagai pria tampan yang tak punya pengalaman tentang cinta
aku harus berhati-hati dalam menjawabnnya agar tak melenceng jauh dari
kenyataan. Ku tarik nafasku dalam-dalam
dan mulai berbicara.
Ku tepuk pundaknya seraya berkata
“gini zak, mencintai lebih dari satu wanita adalah insting alami seorang pria,
tapi saat seorang pria mencintai wanita, Maka kamu hanya memiliki dua pilihan.
Kamu harus terus mengejarnya sampai dia menyerah atau berhenti mengharapkannya”
“saat kamu memilih mengejarnya, kamu
harus yakin pada dirimu sendiri bahwa kamu akan mendapatkannya dan pasti
mendapatkannya. Tapi jika kamu memilih berhenti, jangan pernah menoleh
kebelakang lagi, karena orang yang kamu cintai akan menggodamu tepat setelah
kamu memilih untuk berhenti” tiba-tiba aku langsung jadi pujangga cinta.
kata-kata yang ku karang sendiri berhasil membuat zaki tertunduk Seolah sedang
berfikir keras untuk menentukan pilihannya.
Melihat wajah Zaki yang begitu
serius memikirkannya, aku langsung tak menyia-nyiakan kesempatan ini,
kesempatan dimana aku bisa terlihat seperti seorang pria yang mempunyai banyak
pengalaman tentang percintaan. Kualihkan pandanganku dari Zaki, layaknya pria
yang sudah menelan banyak penderitaan cinta, ku katakan padanya
“sekarang ini, pilihan ada di
tanganmu Zak” kata kataku semakin menjadi-jadi
“aku tidak akan menyarankanmu untuk
memilih yang mana, tapi pikirkanlah baik-baik tentang apa yang akan kamu pilih
nanti” lalu aku berbalik, merebahkan tubuhku, dan tidur. Tadinya aku ingin
berdiri, berbalik, kemudian pergi meninggalkan Zaki sendirian lalu terjadi
ledakan dimana-mana seperti dalam film-film action. Tapi itu tidak mungkin
kawan, aku tidak punya cukup uang untuk membeli bom. Untuk membeli makan saja
aku harus pinjam sama teman.
Setelah malam itu, Zaki tidak pernah
mengatakan apa-apa lagi. Sepertinya dia memilih untuk tetap melanjutkan
perjuangnya dalam rangka mendapatkan ricita. Kurasa setiap malam dia sholat
tahajut memohon supaya Ricita segera putus dengan pacarnya.
Hal yang membuat hati Zaki menjadi
sangat pilu adalah ketika pacar Ricita mengundang seluruh anggota GK untuk
makan bersama di WSS (warung Steak and shake), dan itu terjadi untuk merayakan
hari ulang tahun Ricita. Saat itu, hanya Zaki yang merayakannya dengan air
mata. Ku coba untuk menghiburnya seperti meniup teh manis dengan sedotan,
sehingga terbentuklah gelembung-gelembung di dalam minumanku tapi dia hanya
melihat jijik padaku. Bahkan saat tanganku memegang hot plate yang panas, dia
hanya menatap kosong padaku.
Dua bulan kemudian, akhirnya doa-doa
yang dia panjatkan setiap malam terkabul juga. Aku sangat yakin bahwa
penyebabnya adalah perempuan-perempuan dari GK. Kudengar kalau mereka melakukan
sidang terhadap Ricita. Alasan yang mereka gunakan adalah ingin mendapatkan
kejelasan siapakah yang lebih dipilih Ricita antara pacarnya dan Zaki, tapi
jangan percaya dengan alasan itu kawan, mereka pasti menyiapkan siasat licik
didalamnya. Tujuan mereka sebenarnya pastilah ingin memisahkan Ricita dari
pacarnya. Seberbahaya itulah mereka kawan.
Menurut dugaaan dan pengalamanku, otak dari
rencana konspirasi terhadap ricita ini pastilah Lala, sedangkan Nene akan
berperan dalam mempengaruhi Ricita, Nene akan membenarkan semua perkataan kedua
perempuan lainnya sambil mengupil, dan Isma akan berperan sebagai pemanas,
berusaha sekeras mungkin untuk menunjukkan jika piihan yang dibuat Ricita itu
adalah salah besar, dia pasti akan mengagung-agungkan Zaki bak dewa dalam
motologi Yunani.
Inti dari recana ini adalah memojokkan Ricita
agar lebih memilih Zaki daripada pacarnya yang sekarang. Mereka memojokkan
Ricita di satu tempat lalu menyerangnya bertubi-tubi dan akhirnya Ricita
menyerah, meletakkan segala bentuk pertahanannya dan mengibarkan bendera putih.
Ricita akhirnya memutuskan pacarnya itu. Mendengar hal itu wajah semua anggota
GK nampak terlihat senang kecuali Ricita dan Veryl. Exspresi veryl datar
seperti biasa.
Rencana
kami selanjutnya adalah mendekatkan antara Zaki dan Ricita. Mereka berdua telah
mendapat restu dari seluruh anggota GK. Kami mengajaknya jalan-jalaan dan makan
bersama, meskipun sebenarnya itu adalah hal yang sudah biasa kami lakukan,tapi
Setiap kali jalan-jalan maka kami akan merencanakan operasi “tak ada pilihan
lain”, aku membonceng Nene, Virgo membonceng Lala, Veryl membonceng Isma, dan
Singgeh menyeret membonceng Vita dibelakangnya, sehingga mau tak mau
Ricita harus boncengan dengan Zaki. Licik sekali kawan, kami memang licik.
Bukan hanya kami saja yang berusaha
tapi Zaki juga menunjukkan perjuangannya dalam mendapatkan hati Ricita. Setiap
hari dia datang ke kos Ricita dan setiap hari pula dia menginap di kos Virgo
karena pondoknya sudah tutup gerbang. Kulihat wajah Zaki sekarang tampak lebih
ceria dari beberapa bulan yang lalu. Sekarang dia sudah bisa mengajak Ricita
jalan-jalan sendirian. Sampai pada puncaknya dia berencana merayakan acara yang
sama sekali tidak bisa kami mengerti, tidak satu pun. Dia merayakan 22 tahun, 2
bulan, dan 22 hari nya Ricita. Meskipun acaranya tidak bisa kami mengerti, tapi
perjuangnya patut di acungi jempol kaki.
Sore hari dia berangkat sendirian ke
“payung” untuk memesan tempat makan disana. sebuah tempat yang berada di kota
Batu dan cukup jauh dari malang. Dia menempuh jalan mendaki dan berkelok selama
perjalanan. Sialnya Zaki adalah ketika dia hendak kembali ke malang karena
ingin berangkat bersama dengan GK dan membawa serta Ricita ke tempat tujuan
yang sudah di siapkannya, namun tiba-tiba saja rantai sepeda motornya putus di
tengah jalan. Dia berjalan sekitar 2 km sampai akhirnya menemukan sebuah masjid
dan menitipkan sepeda motornya di sana. Akhirnya dia menunggu di payung dengan
bermodalkan tukang ojek. Dengan begitu formasi keberangkatan kami berubah
menjadi ; Virgo-Lala, Veryl-Isma, Nene-Ricita, aku-Wahyu (Baca : sendirian),
singgeh juga sendirian karena ini acara yang sangat sangat khusus bagi GK, jadi
tidak ada orang lain yang boleh ikut saat ini (Baca : Vita).
Sesampainya disana kami melihat seseorang telah
melambaikan tangan seperti sedang ikut acara uji nyali, yang tidak lain adalah
Zaki. Kami hampiri saja pria dengan wajah setengah kusut itu, “hey yo, what’s
up bro” teriakku. matanya menatapku sayu namun masih mencoba untuk tetap
tersenyum. ya, salam hangatku hanya mampu membuatnya tersenyum paksa. Tanpa
menghiraukan betapa lelahnya Zaki, Langsung saja kami memesan makanan dan
minuman dengan biaya di tanggung pemilik acara, yaitu Zaki. Kami semua makan
dengan lahap karena tak perlu memikirkan biayanya.
Setelah selesai menyantap hidangan kami masing-masing,
maka ini adalah saatnya untuk mengungkapkan harapan-harapan tentang apa yang
akan terjadi di masa depan.
Kami
bahkan merekam kejadian bersejarah ini ke dalam sebuah video. Aku mendapat
giliran pertama, “ehm” aku memulai dengan batuknya pak walikota. “semoga kita
masih bisa kumpul lagi, dan meskipun nanti kita udah pisah jauh kuharap kalian
masih tetep ingat aku “ aku sudah seperti tipe orang yang gampang dilupakan.
Kalian mungkin pernah menemui seseorang dimana butuh lebih dari satu kali untuk
menanyakan namanya agar kalian bisa mengingatnya dengan baik. kurasa seperti
itulah aku, gampang dilupakan. Jadi, sebelum mereka melakukannya, aku mengemis
pada mereka untuk mengingat aku baik-baik.
Selanjutnya adalah giliran Virgo,
berbeda denganku yang memulainya dengan cara seperti pejabat daerah, Virgo
memulainya dengan cara para ilmuwan. Dia mengambil gelas minumanku dan minuman
Zaki lalu mencampurkannya “kita itu seperti minuman ini” dia mengibaratkan kami
seperti minuman. “meskipun kita berbeda-beda tapi kita berada dalam satu wadah,
satu rasa” terangnya. “mudah-mudahan kita bisa kumpul lagi kalau ada waktu
longgar, belum tentu kita bisa kumpul lagi setiap setahun sekali”, beberapa
saat kemudian, kata-kata bijak Virgo dilenyapkan oleh Veryl “tahun depan bawa
anak masing-masing”, Yang benar saja, jika untuk mengandung anak saja
membutuhkan waktu sembilan bulan, itu artinya kami harus menikah pada saat itu
juga.
Zaki sebagai pembicara ke-3 memulainya dengan cara yang sama dengan yang
aku gunakan dan mengatakan “sama dengan yang dikatakan Wahyu sama Virgo tadi
ya, harapannya setelah ini kita bisa kumpul-kumpul lagi dan membahas tentang
apa yang sudah kita lalui masing-masing dan juga mengungkapkan apa yang kita
harapkan di masa depannya nanti” dia telah meminta kami untuk menceritakan
harapan kami saat kami berkumpul kembali, ada harapan di dalam harapan.
Selanjutnya adalah Veryl, tidak banyak yang dikatakannya. “insya Allah tahun
depan aku masih di malang, jadi kalo kalian mau cari aku, aku ada di malang”. Bukan
Ryl, itu bukan harapan sama sekali. Itu hanya sebuah pernyataan.
Berikutnya
adalah singgeh, dia jarang sekali ikut berkumpul dengan kami dikarenakan sibuk
berpacaran. Dalam kesempatan ini dia meminta maaf karena jarang ikut kumpul
“sepurane rek lek aku jarang ikut kumpul” begitulah kata-katanya. Itu juga
bukan harapan nggeh, bukan.
Oke kita lanjut ke Isma, “sekarang aku ya” ku harap
isma bisa menyampaikan kata-kata yang lebih bijak dari singgeh. “aku juga minta
maaf ya kalo aku suka sibuk” isma membuka kata-katanya. “kita berbeda-beda kan,
kita punya tujuan masing-masing, jadi tetap semangat”. Bisakah kalian lupakan
saja harapanku tadi kawan.
Seperti belum puas membuatku kecewa Lala malah
mengucapkan terimakasih “terimakasih buat Zaki yang sudah mengadakan acara ini,
terus terimakasih juga buat temen-temen yang sudah datang, ini pertama kalinya
kita bisa kumpul bareng dengan anggota geng yang komplit”, cukup La, Cukup.
Akhirnya Ricita sebagai pembicara terakhir mengembalikan topiknya “harapannya
tahun depan dapat beasiswa ke Jepang, jadi kita nanti bisa kumpul bareng di
Jepang”. Kurasa itu tidak mungkin Ricita, kami tidak akan punya uang sebanyak
itu untuk bisa pergi ke Jepang.
Tepat pada pukul 22.00 WIB, seorang
pelayan pria mendatangi kami, bukan untuk memberikan struk tagihan atas apa
yang telah kami makan apalagi memberikan sedekah kepada kami, meskipun aku
mengharapkan sedekah itu, tapi tidak kawan, tidak ada sedekah sama sekali.
Kedatangan pelayan itu tidak lain adalah untuk memberikan kue ulang tahun yang
di persembahkan untuk Ricita. Kurasa Zaki ingin merayakan ulang tahun Ricita,
dikarenakan hari raya ulang tahun Ricita sebelumnya telah direnggut oleh
pacarnya Ricita dan sepertinya Zaki tak mau menunggu terlalu lama sampai Ricita
ulang tahun lagi. Jadi, perayaan 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari itu adalah
alasan yang di gunakan Zaki untuk merayakan Ulang tahun Ricita. Aku yakin
sebenarnya Zaki pasti ingin membuktikan bahwa dia bisa membuat acara ulang
tahun yang lebih baik daripada pacaranya Zaki, pasti.
Setelah acaranya
selesai, aku membonceng Nene sedangkan Zaki membonceng Ricita dengan meminjam
motor Nene, Singgeh tetap sendirian. Kemudian setelah kami mengantar Ricita ke
kosnya, Nene pulang membawa motornya, aku membonceng Zaki ke kos Virgo, kami
tidur di sana. Motornya Zaki?, masih di masjid sampai keesokan harinya. Aku
sedih karena tidak ada teman begadang
lagi, Zaki sudah bisa tidur dengan nyenyak sekarang dan Veryl masih konsisten.
Wahyu Utomo, 18 September 2015



sangat mengahrukan dan memotivasi..mengajarkan kita agar jangan menyerah menggapai sesuatu...right ???
BalasHapusdan seperti biasa ini kereeeeeenn !!!!!!1
Terimakasih wahyu... keren ceritamu.. q tunggu karyamu selanjutnya... semoga manfaat dan barokah...
BalasHapus